Vlado Sang Tembok Penghancur

Tolong baca ini, Vujovic!
Hi, Vlado! Apa kabar? Ketika kamu membaca tulisan ini, dimanapun itu dan entah kapanpun itu, semoga kamu dalam keadaan baik dan bisa tetap meminum coca-cola tentunya..
Saya akan selalu ingat tentang malam di Palembang saat semifinal ISL melawan Arema. Ketika kami sudah mulai memikirkan jalan untuk kembali ke Bandung dengan membawa kekalahan, mulai pasrah bahwa nasib baik ternyata tidak memihak kami, kemudian kamu muncul dengan membawa golden ticket melalui gol penyeimbang kamu.
Harus kamu tahu, kami, bobotoh yang berdiri di tribun Selatan Gelora Jakabaring, termasuk orang nomor satu di Bandung Bapak Ridwan Kamil bersama Ibu Atalia malam itu seperti sekumpulan manusia kehausan di padang pasir nan tandus lalu menemukan sumber air ditengah harapan yang hampir mustahil. Saya ingat betul bagaimana Walikota kemudian bersuka cita dengan memeluk istrinya ketika gol itu terjadi. Disamping Ridwan Kamil, ada Om Budi Bram yang juga mengepal tangan keatas. Kebetulan saat itu Budi Bram memakai jersey pemberian kamu dengan nomor punggung 3 bertuliskan Vladimir. Otak saya merekam betul kejadian itu. Satu ruang dimana kamu menghidupkan lagi harapan seluruh kota.
Data statistik menyebutkan bahwa musim lalu menit bermain kamu mencapai angka 3.851 menit, dengan produksi gol sepanjang musim sebanyak tujuh gol. Tak lupa data pun menyertakan bahwa kamu pernah mendapatkan sebelas kartu kuning dan satu kartu merah yang kamu terima di final ISL. Tapi, apalah gunanya serentetan angka-angka itu? Data tadi tidak pernah merekam berapa banyak tepukan tangan dan teriakan – teriakan pembakar semangat untuk menyemangati teman- temanmu yang sudah tidak tahu harus bagaimana lagi ketika PERSIB sedang tertinggal 0-1 oleh Arema.
Kamu berteriak, lalu berteriak, lagi, dan lagi sepanjang pertandingan itu. Wajahmu sampai memerah karena hal ini. Kamu maju melakukan overlap, gagal, kemudian kamu mundur lagi untuk kembali menjaga garis pertahanan yang digempur oleh Gonzalez-Beto-Gustavo. Melelahkan melihat tugasmu malam itu. Sangat melelahkan, kamerad!
Di penghujung pertandingan, kamu sendiri akhirnya yang berhasil memecah kebuntuan itu. Seorang brilian di moment yang teramat tepat.
Tanpa gol kamu malam itu, kami tidak akan pernah bisa mendapatkan tiket emas ke babak final. Yang terpenting dari segala yang terpenting adalah bukan bagaimana gol itu tercipta dan terjadi. Tetapi respon kamu terhadap pertandingan untuk tidak menyerah dan menjaga api harapan itu tetap ada adalah yang terbaik. Kami akan selalu ingat itu, kawan. Seorang keras kepala yang sangat membenci kekalahan bernama Vladimir Vudjovic.
Kami pernah kedatangan Suchao Nutnum dari Thailand, Enzo Cabanaz dari Paraguay, Bekamenga dari Kamerun dan rekan serumpun kamu sang profesor Miljan Radovic. Benar, dan sangat benar bahwa mereka pun meninggalkan kesan baik di hati yang terdalam. Akan tetapi, tidak dengan piala itu, Kamu adalah seorang batu karang paling tangguh yang akan selalu tercatat dalam sejarah bukan hanya karena penampilan apik. Tetapi, karena kamu memberi pembeda diatas logo Kota Bandung dengan sebuah bintang.
Kami pernah mendatangkan Abanda Herman, Pato Jimenez, Chioma Kingsley, Toyo Claudio, Claudio Lizama untuk diberikan mandat menjaga benteng terakhir tim kebanggan kami ini. Mereka tangguh, tetapi mereka hanya seorang tangguh yang tanpa gelar. Apalah arti tangguh ketika semuanya masih berdiri diruang kosong. Bahwasannya, sejarah akan selalu mencatat pemenang, bukan seberapa tangguh kamu bernafas. Dan kamu adalah pemenang Vlado.
Kami beruntung Otavio Dutra sebagai opsi pertama bek bidikan Djanur akhirnya gagal merapat ke Bandung, karena itu yang akhirnya membuka jalan untuk kamu dan kami bersatu. Saya ingat pertama kali kamu datang ke Bandung dan melakukan debut melawan para pemain sirkus dari Amerika. Dibawah guyuran hujan rintik, kamu berhasil membuat DC United seperti sekumpulan bocah amatir yang baru saja belajar menendang bola. Perkenalan pertamamu ditandai dengan membumi hanguskan mereka dan diakhir musim kamu memberikan karya terbaik yang kami tunggu yaitu JUARA.
****
Kebetulan pagi itu saya harus liputan pertandingan persahabatan Persib melawan Persibat Batang. Makan Konate dan Djibril Coulibaly tidak ada. Dengan muka sangat merah terpanggang matahari, kamu tampak kewalahan mengawal baris pertahanan PERSIB. Saya akhirnya tahu bahwa kamu baru pulang dari Singapura bersama Makan dan Djibril sehabis mengurus KITAS.
Tidak tidur tiga hari dan melakukan perjalanan antar negara, menyetir mobil sendirian Bandung – Jakarta, tetapi tidak mengambil opsi izin dan tetap bermain di pagi itu. Kemudian sorenya kamu harus melakukan perjalanan darat selama lima jam untuk melakukan TC di Ciamis – Pangandaran. Saya tahu kamu lelah, karena kamu pun mengeluh saat itu. Tetapi seperti biasa, keluhanmu tidak pernah mengganggu etos kerjamu. Benar- benar keras kepala!
Tuan Vlado, Sejauh apapun kamu, Luna, dan istrimu yang cantik itu melangkah. Kamu pasti kan kembali ke Budva, sejauh itu pula kami akan selalu menerima kamu di Bandung. Jikapun kamu tidak akan pernah kembali, percayalah bahwa Bandung tidak akan pernah lupa terhadap seorang komandan perang asal Balkan bernama Vladimir Vujovic. No 3 itu akan selalu menjadi milik kamu. Terimakasih telah memberikan semua energi terbaik yang kamu punya selama setahun setengah terakhir. Selamat berpetualang, selamat melanjutkan hidup. Hatur nuhun, Vladimir Vujovic!

Penulis : Riphan Pradipta

Sumber : WWW.SIMAMAUNG.COM 
Share on Google Plus

DISTRIK VIKING TAIWAN

<< VIKING >><< TAIWAN>>
KAMI SATU, KAMI BIRU, DIBELAHAN NEGERI CHINA | MEMBIRU DIBELAHAN NEGERI CHINA | YOUNGYEN AI PERSIB